DICINTAI DAN MENCINTAI ITU KEBUTUHAN

Kesenangan dan ketertarikan kepada lawan jenis merupakan fitrah dalam diri manusia yang keberadaannya adalah rahmat dari Allah SWT. Ketika seseorang telah memasuki usia muda, perasaan ini akan tumbuh dengan sendirinya. Perasaan suka terhadap lawan jenis merupakan efek dari perkembangan biologis manusia (ehm…kata para psikolog).
Perasaan ini tidak dapat dihilangkan dalam diri manusia bagaimanapun usahanya. Perasaan cinta itu butuh penyaluran, karena kalau tidak akan membuat manusia gelisah dan akhirnya akan lahirlah penyimpangan. Penyimpangan terhadap fitrah yang satu ini pernah terjadi pada masa nabi Luth As. Pada waktu itu, kaumnya nabi

Luth Melakukan kemaksiatan berupa praktek Homoseksual.

Praktek homoseksual adalah jekas-jelas perilaku yang bertentangan dengan fitrah Alllah SWT. Dan hukuman bagi para pelaku Homoseksual itu sangat berat.
Dari Ikrimah dari ibnu abbas ra berkata : Rasulallah SAW` pernah bersabda:

“Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatannya Nabi Luth, Maka bunuhlah keduanya”.

Ketertarikan dan kecintaan terhadap sesame jenis itu merupakan sebuah penyimpangan yang besar. Bukankah Allah SWT dalam Al-Qur’an sudah berfirman,

“dan diantara yanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan Untukmu Istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya diantaramu rasa kasih saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum: 21)

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita….” (QS. Ali Imran: 14)

Kecenderungan dan keinginan bercinta itu hanya bisa diredam untuk sementara waktu saja. Meredam gejolak cinta yang terlalu lama akan melahirkan penyimpangan seksual dikalangan manusia. Dibutuhkan mujahadah yang sebenar-benarnya. Karena jka seseorang tidak mampu meredam gejolak itu dengan cara yang benar, maka dipastikan akan menimbulkan kemaksiatan. Banyak sekali kejadian yang kita saksikan hari ini, betapa bahayanya orang meredam gejolak birahidalam dirinya. Karena begitu beratnya meredam hasrat bercinta ini, Rasulallah memberiakan nasiaht kepada kita, kaum muda.

“wahai para pemuda, jika kamu telah sanggup untuk menikah, maka menikahlah, karena itu akan menjaga kehormatanmu. Kalau belum mampu, maka tundukanlah pandangan kamu dan berpuasalah, karena itu adalah benteng bagi kamu.” (HR Al Hakim)

Dalam pesan itu, Rasulallah memberiakn dau macam solusi bagi gejolak jiwa muda. Solusi utama dan pengganti. Solusi pertama dalah menikah. Karena menikah adalah obat yang paling mujarab bagi bergejolaknya jiwa di saat usia muda. Jadi menikah merupakan sarana yang paling utama untuk terpenuhinya hasrat dan keinginannya dalam jiwa.

Ketahuialah, hasrat untuk bercinta ini kalau tidak disalurkandengan jalan yang benarmerupakan sumber malapetaka bagi manusia. Ia paling mudah menggelincirkan seseorang kedalam kemaksiatan yang berkepanjangan. Namun kadang-kala manusia tidak menyadarinya atau pura-pura tidak menyadarinya. Untuk itu Imam Ahmad Secara tegas mengingatkan kepada kita,

“jika seseorang telah mampu untuk menikah tapi tidak segera menikah, maka pastilah ada dua alasan. Yang pertama dia patut diragukan kejantanannya, sedangkan yang kedua dia menikmati bergelimang dalam kemaksiatan.”

Subhanallah, sebegitu cermatnya Imam Ahmad dalam memeahami kejiwaan kaum muda. Hidup membujang terlalu lama rasanya lebih dekat dengan kehinaan, sekalipun jenggot yang lebat telah membungkus kefasihan mengucapkan dalil-dalil suci Al-Quran dan Al Hdits. Benarlah apa yang dikatakan Rasulallah. “ Orang meninggal diantara kalian yang berada dalam kehinaan adalah bujangan”.

Bujangan, tanpa seorang pendamping yang dapat membantunya betakwa kepada Allah, hati dapat terombang ambing oleh instink untuk memnuhi panggilan biologis. Hati akan diliputi oleh kerinduan untuk mendapatkan sahabat Khusus yang hanya kepadanuya kita bisa menceritakan sisi-sisi hati yang paling sacral dan paling rahasia, serta oleh panjangnya angan-angan yang sulit sekali memangkasnya.

Dalam keadaan yang demikian, sangat sulit untuk menggapai kekhusyukan dalam shalat. Sulit untuk menggapai ketenangan dalam dzikir, sulit mendapatkan keikhlasan dalam dakwah hati akan tersibukkan oleh kemaksiatan yang terus menerus. Sesekali dapat melepaskan diri dari kemaksiatan memandang wanita atau melirik laki-laki yang bukan muhrimnya. Tetapi masuk kedalam masiat lainnya. Kegelisahan dan ketidak tentraman adalah buah dari hasrat yang tertunda terlalu lama. Astaghfirullahal’adzim.

Ada sebuah syair karya AlBushiri yang merupan sindiran kepada Saya dan Anda:

Siapa itu
Yang sanggup

kendalikan hawa nafsu

Seperti kuda liar
Yang dikekang temali kuat?

Jangan kau ber-angan
Dengan maksiat nafsu dikalahkan

Maksiat itu makanan

Yang bikin nafsu buas dan kejam.

Advertisements
By Usman Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s