Apakah Bayi Yang Lahir Tidak Bernyawa Harus Dishalatkan?

Jumhur ulama umumnya mensyaratkan adanya istihlal (ﺍﺳﺘﻬﻼﻝ) bayi yang lahir agar bisa dishalatkan. Yang dimaksud dengan istihlal adalah suara tangis bayi saat lahir ke dunia, atau setidaknya ada tanda bahwa bayi itu sempat hidup di dunia.

Dasar dari istihlal ini adalah sabda Rasulullah SAW :

ﻟَﺎ ﻳُﺼَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺴْﺘَﻬِﻞَّ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺍﺳْﺘَﻬَﻞَّ ﺻُﻠِّﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋُﻘِﻞَ ﻭَﻭُﺭِّﺙَ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻬِﻞْ ﻟَﻢْ ﻳُﺼَّﻞَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻮَﺭَّﺙ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻘَﻞ

Bayi tidak dishalatkan kecuali lahir beristihlal. Bila istihlal maka bayi itu dishalati, dibaysrkan diyat dan diwarisi. Sedangkan bila tidak, maka tidak dishalati, tidak diwarisi dan tidak ada diyatnya. (HR. Ibnu Adiy)

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bila bayi sempat beristihlal maka tetap diberi nama, dimandikan dan dishalatkan.

Sedangkan bila tidak beristihlal, maka tidak dishalatkan, namun tetap dimandikan dan dikafani sebagaiman biasa, sebagai penghormatan terhadap anak-anak Adam.

2. Mazhab Al-Malikiyah

Bila pada bayi keguguran sempat didapati tanda kehidupannya, seperti menghisap puting susu, bergerak atau menangis, maka bayi itu dishalati. Sedangkan bila sama sekali tidak didapat salah satu dari tanda-tanda itu, maka tidak dishalati.

Namun bila yang didapat hanya gerakan, kencing, atau bersin, tetapi tidak ada tangisan yang memastikan kehidupannya, hukumnya makruh untuk dishalati.

3. Mazhab Asy-Syafi’iyah

Mazhab Asy-Syafi’iyah menyebutkan bahwa bayi yang lahir keguguran bila sempat menangis atau istihlal diperlakukan seperti orang dewasa, yaitu dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan.

Namun bila tidak beristihlal atau tidak menangis, tetapi ada tanda kehidupannya, tetap dishalatkan dalam pendapat yang adzhar demi kehati-hatian. Sedangkan bila sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan sebelumnya, maka tidak perlu dishalatkan, walaupun sudah melewati empat bulan kehamilan.

Secara umum sudah menjadi perintah Rasulullah SAW untuk menshalatkan bayi.

4. Al-Hanabilah

Sedangkan mazhab Al-Hanabilah berkata bahwa bila bayi lahir setelah kehamilan 4 bulan, walaupun sudah tidak bernyawa, tetap dishalatkan jenazahnya. Dan sebelumnya juga dimandikan seperti umumnya.

Dalilnya adalah hadits berikut ini :

ﻭَﺍﻟﺴَّﻘْﻂُ ﻳُﺼَﻠﻰَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻳُﺪْﻋَﻰ ﻟِﻮَﺍِﻟﺪَﻳْﻪِ ﺑِﺎﻟﻤـَﻐْﻔِﺮُﺓِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ

Bayi yang gugur dishalatkan dan didoakan kedua orang tuanya dengan maghfirah dan rahmah. (HR. Ahmad, An-Nasai, Abu Daud dan At-Tirmizy)

Advertisements
By Usman Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s