ADAB MINUM ROSULULLAH

adab-makan-dan-minum-dalam-islam1Sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan cara makan, beliau juga memberikan teladan tentang cara minum. Cara Rasulullah SAW minum adalah sebagai berikut:

.
1. Berniat minum karena ibadah kepada Allah SWT;
2. Memulai minum dengan basmalah: “Bismillah“;
3. Minumlah dengan tangan kanan;
4. Tidak bernafas dan meniup air minum di dalam wadah;
Beliau bernafas 3 kali ketika minum. Hembusan nafasnya di luar gelas;
5. Tidak minum langsung dari teko/ceret;
6. Dianjurkan lebih minum dalam keadaan duduk
7. Menutup tempat minuman pada malam hari;
8. Bersyukurlah dengan minuman yang ada dan tidak boleh mencelanya;
9. Ucapkan hamdalah, “Alhamdulillah“, setelah minum.
.
Anas bin Malik radhiyalaahu anhu berkata, “Rasulullah SAW biasa bernafas tiga kali sewaktu minum.” (HR. Muttafaq ‘alaih)
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jika salah seorang dari kalian hendak makan, hendaklah makan dengan tangan kanan. Dan apabila ingin minum, hendaklah minum dengan tangan kanan. Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)
.
Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian minum maka janganlah bernafas dalam wadah air minumnya.” (HR. Bukhari no. 5630 dan Muslim no. 263)
.
Dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernafas atau meniup wadah air minum.” (HR. Turmudzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)
.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum beliau mengambil nafas di luar wadah air minum sebanyak tiga kali.” Dan beliau bersabda, “Hal itu lebih segar, lebih enak dan lebih nikmat.” Anas mengatakan, “Oleh karena itu ketika aku minum, aku bernafas tiga kali.” (HR. Bukhari no. 45631 dan Muslim no. 2028)


Silahkan dishare, semoga menambah pahala keebaikan..

Kisah Imam Ahmad dan penjual roti

Dimasa akhir hidup beliau bercerita, “satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak”. Padahal tidak ada janji dan hajat.


Imam Ahmad pergi menuju kota Bashroh. “Tiba disana waktu Isya’, saya shalat berjamaah di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat”. Beliau ingin tidur di masjid, namun marbot yang tidak tau kalau itu Imam Ahmad, mengusir beliau ke teras masjid. Ketika berbaring di teras, marbot itu datang lagi dan mengusir beliau ke jalan.

Disamping masjid ada penjual roti. Ia sedang membuat adonan, sambil melihat Imam Ahmad didorong2 oleh marbot ke jalanan. “Mari syaikh (maksud syaikh di sini adalah kakek), anda boleh nginap di tempat saya, meskipun kecil”
.
“Baik”. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tidak memperkenalkan dirinya, hanya bilang sebagai musafir)
.
Penjual roti ini punya perilaku tersendiri, kalau imam Ahmad ngajak ngomong, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan sambil melafalkan istighfar, Astaghfirullah, saat Naruh garam astaghfirullah, mecah telur astaghfirullah, campur gandum astaghfirullah. Senantiasa mendawamkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Imam Ahmad bertanya “Sudah berapa lama kamu lakukan (kebiasaan istighfar) ini?”.
“Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan”.
“Apa hasil perbuatanmu ini?”.
“Tak  ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. semua yang saya minta langsung diterima. Semua dikabulkan Allah kecuali satu”.
Imam Ahmad penasaran “apa itu?”.
“Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad”.
.
Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, “Allahuakbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashroh bahkan sampai didorong2 oleh marbot masjid sampai ke jalanan karena istighfarmu” (Penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad)


. [Manakib Imam Ahmad]